Yohanes Chandra Ekajaya Cuci Sepatu

 

Yohanes Chandra Ekajaya Laundry Sepatu

Sambil menjinjing dua sepatu sneaker di dalam kantungnya, Yohanes Chandra Ekajaya berjalan perlahan menuju salah outlet jasa cuci sepatu di Pekalongan, Jawa Tengah. Tak lama setelah mendaftarkan kedua sepatunya ke outlet tersebut. “Saya pernah mencoba bersihin tapi ga pernah bersih. Jadi bersyukur ada jasa cuci sepatu gini,” ujar Pria asal Pekalongan ini. Ia bercerita, kedua sepatunya sudah menjadi korban dari aksinya dalam mencuci sepatu sendiri.

“Kendala sendiri itu teknik bersihinnya enggak tahu, pernah sepatu suede saya bersihin lama-lama jadi berbulu. Sama sepatu leather juga gitu, bersihin sendiri, warnanya jadi redup,” jelas Yohanes Chandra Ekajaya sembari tertawa kecil. Belakangan ini, jasa cuci sepatu menjadi perbincangan yang hangat di kalangan anak muda. Khususnya ketika tren sepatu sneaker/running mulai muncul kembali ke permukaan di media tahun 2014.

“Sepatu saya kan banyak dengan bentuk yang beragam. Lalu saya masukkin ke laundry baju. Kemudian ada satu sepatu yang spesifik jadi rusak. Akhirnya cari tahu cara bersihin sepatu seperti apa,” jelas Yohanes Chandra Ekajaya yang mendirikan Cuci Sepatu sejak Oktober 2014 lalu.  Menurut Yohanes Chandra Ekajaya, membersihkan sepatu tidak bisa disamakan dengan mencuci baju. Karena mulai dari sabun hingga sikat harus mempunyai spesifikasi khusus.

“Sepatu itu luar biasa kompleksnya, ada bagian yang kecil itu bersihinnya pakai sikat yang kecil, bisa pakai 3 sikat yang berbeda, dan dilap dengan microfibre towel, dan waktu pengerjaannya makan waktu yang cukup lama,” jelas Yohanes Chandra Ekajaya.  “It’s beyond everybody expectation. Kita ga nyangka akan secepat ini pertumbuhannya. Bisa 350 pasang sebulan dikali rata-rata harga jasa Rp 70.000 dan itu belum termasuk dari penjualan sabun swasher dan cleaning kit dari Shoe Bible,” jelas Yohanes Chandra Ekajaya.

Yohanes Chandra Ekajaya Cuci Sepatu Lama

Salah satu kendala dalam bisnis mencuci ini antara lain konsumen yang masih kurang percaya kepada produk lokal. “Kadang banyak yang membandingkan dengan sabun impor. Banyak yang lebih percaya barang mahal dan internasional. Tapi seiring berjalannya waktu lama-lama mereka percaya juga dengan sabun produksi kita,” kata Yohanes Chandra Ekajaya. Menurut dia, banyak konsumen yang meminta selesai dalam jangka waktu yang singkat. Padahal, kata dia, waktu adalah aspek penting dalam pembersihan sepatu.

“Komunikasi sama customer paling berat, banyak yang naruh sepatu 3 hari minta selesai. Soalnya waktu itu ngaruh banget, terlalu cepat hasilnya gak akan se-perfect kalau tidak terburu-buru,” jelas Yohanes Chandra Ekajaya.  Meski demikian keduanya optimistis, bisnis jasa cuci sepatu masih akan terus berkembang. Pasalnya, menurut Dian, selain tren sneaker yang masih digemari konsumen, daya beli masyarakat terhadap sepatu juga makin besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *