Chandra Ekajaya Curiga Resolusi Sawit

Chandra Ekajaya Curiga Resolusi Sawit 2

Pengusaha Chandra Ekajaya selaku pengusaha sawit mengatakan bahwa dirinya khawatir dan curiga mengenai motif dibalik resolusi sawit. Hal ini didukung oleh Fadhil Hasan, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit. Ia menduga bahwa resolusi di parlemen Eropa mengenai sawit dikeluarkan karena mempunyai motif persaingan bisnis. Tentu saja persaingan bisnis antara minyak kelapa sawit yang berasal dari Indonesia dengan minyak nabati yang diproduksi oleh Eropa. Menurutnya, benua Eropa masih sangat membutuhkan pasokan minyak sawit dari negara ini. Sayangnya, resolusi sawit tersebut memberi kesan dan sentimen negatif terhadap industri kelapa sawit. Walaupun untuk saat ini para pengusaha belum merasakan dampak yang ekstrim terhadap ekspor produk kelapa sawit. Sebab berdasar data perdagangan Indonesia, dalam satu tahunnya negara ini mampu mengekspor 25 juta ton crude palm oil ke benua Eropa. Sedangkan untuk produksi total mencapai 34 juta ton per tahunnya. Artinya negara ini benar-benar surplus secara kuota. Maka dari itu sangat membutuhkan ekspor.

Chandra Ekajaya Curiga Resolusi Sawit

Lalu, pengusaha Chandra Ekajaya pun menambahkan bahwa isu-isu politik juga dibawa dalam resolusi sawit di benua Eropa. Misalnya seperti isu eksploitasi pekerja anak, korupsi, menghilangkan masyarakat adat, dan lain-lain. Jelas saja Chandra Ekajaya tidak sepakat dengan tuduhan tersebut. Bahkan pemerintah Indonesia melalui Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya menolak tuduhan tersebut. Bagi pihaknya, tuduhan tersebut merupakan tuduhan yang keji dan tidak berdasar serta tidak nyambung. Bahkan Indonesia berang dan melayangkan nota protes kepada parlemen Eropa. Sebab hal ini menyangkut nama baik pemerintah Indonesia serta merupakan bentuk penghinaan, sehingga tidak dapat diterima. Chandra Ekajaya memberikan keterangan bahwa yang dijelaskan oleh pemerintah Indonesia merupakan kebenaran. Sebab presiden Joko Widodo dan para pengusaha sedang mendirikan pengelolaan industri yang ramah dan berbasis lahan tanah. Sehingga nantinya tanah-tanah yang digunakan oleh para pengusaha juga dapat digunakan oleh masyarakat untuk pertanian. Selain itu industri ini sudah menyerap banyak tenaga kerja yang jumlahnya mencapai 27 juta orang per tiap hektare.