Koperasi Bertahan Berusaha Bangkit dengan Dana Seadanya

Kopwan Rizky Allah, Desa Clarak, Kecatan Leces, Kabupaten Probolinggo, menjadi salah satu nominasi Koperasi Award 2017. Namun, siapa sangka koperasi ini sempat “kehabisan” dana karena tiga perempat dana hibah koperasi macet di anggotanya. “KAMI sebenarnya capek juga dengan banyak kesibukan lain seperti ini. Namun, kami juga prihatin dengan keadaan Kopwan itu. Siapa lagi kalau bukan kami yang akan mengurusnya.”

Kalimat itu diungkapkan Ketua Kopwan Rizky Allah, Desa Clarak, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo Yuli He-rindaryanti. Maklum, selain menjadi ketua Kopwan, Yuli juga menjadi ketua Ikatan Guru Raudlatul Atfal (IGRA) Kecamatan Leces. Namun, kesibukannya tak membuatnya menyerah untuk berprestasi. Bersama para pengurus dan anggotanya, Yuli berusaha terus mengembangkan koperasinya. Sehingga, semua ini memantik perhatian Pemerintah Kecamatan Leces, yang menunjuk koperasinya mewakili kecamatan dalam ajang Koperasi Award 2017. “Kami didatangi pegawai kecamatan dan diminta Pak Camat karena dinilai rapat anggota tahunan kopwan kami berjalan lancar Terus kami diberi potongan koran yang berisi persyaratan mengikuti Koperasi Award ini,” ujarnya.

Koperasi Wanita

Dengan terburu-buru, Yuli mengaku, membuat proposal seadanya untuk dikirim kepada panitia lomba gelaran Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Probolinggo itu. Proposal ini pun dikumpulkan di hari terakhir “Mendadak banget, kami tidak berpikiran untuk menang, kami ikut saja,” ujarnya. Beberapa hari kemudian, pihaknya mendapt telepon dari panitia untuk ikut tahapan presentasi. Itu, artinya koperasinya layak menjadi nominasi event yang bekerja sama dengan Jawa Pos Radar Bromo ini. dalam presentasi itu, Yuli mengaku menyampaikan apa adanya. Begitu juga ketika tiga dewan juri melakukan survei ke koperasinya.

Menurut Yuli, koperasinya pernah mendapat hibah Rp 25 juta. Uang ini pun dibagikan rata kepada 50 anggotanya. “Kami belum paham sebelumnya, kalau koperasi yang lain menyimpan Rp 10 juta untuk keamanan koperasi. Sisanya baru dibagikan ke anggota,” ujarnya.

Apes, sebab pada akhirnya uang itu banyak yang tidak kembali. Sehingga, dengan sebagian dana yang ada, harus kembali merangkak untuk membangun koperasinya. “Alhamdulillah, kami bisa membagikan SHU anggota dan lebih selektif memilih anggota. Kami bisa memberi pinjaman hingga Rp 3 juta, tapi rata-rata anggota kami beri pinjaman Rp 500 ribu-Rp 1 juta,” ujamya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *