Chandra Ekajaya Sukses Bukan Keturunan

Dok.Chandra Ekajaya

Pengusaha Chandra Ekajaya sangat tidak percaya kepada asumsi yang mengatakan bahwa kesuksesan merupakan bawaan turunan. Banyak yang bilang jika ayah atau ibunya merupakan orang kaya, maka anaknya pasti kaya. Jika orangtuanya merupakan pengusaha maka anaknya akan menjadi pengusaha. Seperti sudah menjadi hukum alam bahwa kesuksesan merupakan faktor keturunan, layaknya darah raja dan bangsawan. Tetapi pria kelahiran Malang, Jawa Timur ini menjelaskan bahwa dirinya tidak percaya dengan mitos tersebut. Karena itu, meskipun ia lahir dari keluarga miskin, ia mempunyai cita-cita untuk menjadi seorang pengusaha yang sukses. Hal tersebut ia buktikan dengan mendirikan sebuah perusahaan yang bergerak di sektor minyak dan gas. Dari usahanya ini ia membantu banyak penduduk yang berada di sekitar pabrik dengan memberi pekerjaan dengan upah yang sangat layak. Bahkan ekonomi kreatif pun tumbuh di sekitar wilayah perusahannya. Seperti laundry, fotocopy, cuci motor, mobil, dan karpet, counter pulsa, dealer motor, dan toko-toko kelontong.

Pengusaha Chandra Ekajaya memberikan nasehat dan saran kepada para calon pengusaha. Ia mengatakan bahwa bila ingin menjadi seorang pengusaha yang sukses, maka para calon pengusaha harus belajar dari bawah alias dari nol. Sehingga mereka dapat belajar secara mandiri, serta tangguh menghadapi berbagai keadaan. Karena semakin tinggi pohon, maka angin yang menerpanya akan semakin besar. Prinsipnya sangat sederhana, yakni belajar dari pengalaman. Dalam khasanah Jawa disebut dengan ngelmu iku kalakone kanthi laku, sedangkan dalam pendidikan barat disebut dengan learning by doing. Manusia secara alamiah akan belajar dari hal-hal yang telah dialaminya. Mereka akan melakukan evaluasi, kemudian melakukan yang lebih baik lagi esok harinya. Pria yang belum genap berusia 30 tahun ini tidak pernah bercanda dalam memberikan nasehat. Sebab ia melakukan apa yang ia sarankan beberapa puluh tahun yang lalu. Ia mengawali usahanya dari hal yang paling sederhana, yaitu sebagai penjual bensin eceran. Saat itu ia hanya mempunyai modal seadanya dan tanpa koneksi.

Dok.Chandra Ekajaya

Pada awalnya pengusaha ini berpikir bagaimana caranya supaya mendapatkan pemasukan yang besar dengan menjual bensin, baik pertamax, premium, ataupun pertalite. Akhirnya pemuda ini pun mulai berpikir untuk menjadi agen. Karena dengan menjadi agen maka pendapatannya selama sebulan ketika menjadi penjual bensin eceran, bisa didapatkannya hanya dalam waktu 3-5 hari. Bermula dari hal itulah ia mulai mendapatkan ide untuk menambah luas usahanya. Ia pun mulai belajar mengenai dunia perbankan, supaya dapat menambah modal, sehingga usai meluaskan usah agennya tersebut ia bisa mendirikan sebuah pom bensin. Dengan mengurus berbagai izin, berkali-kali harus bolak-balik ke kantor perizinan, dan tanpa kenal lelah. Akhirnya Chandra Ekajaya mampu memperoleh izin untuk mendirikan pom bensin. Beruntung ia mendapatkan tanah lapang yang sangat strategis, karena sering dilalui oleh kendaraan. Dari pendirian pom bensin itulah ia mendapatkan koneksi dan relasi di bidang minyak dan gas. Mulailah ia membuat cabang pom bensin di berbagai wilayah di Indonesia.

Setelah mempunyai banyak pom bensin, kemudian Chandra Ekajaya mendirikan sebuah perusahaan yang memang fokus di sektor minyak dan gas. Tantangan dan zaman memang sudah berubah, tetapi setidaknya generasi muda bisa mencontoh semangat dan perjuangannya. Tidak mungkin anak muda zaman sekarang mau tinggal di gubuk. Maka dari itu ia berani berkata bahwa sukses itu bukan merupakan keturunan ataupun warisan keluarga.

Chandra Ekajaya Pacu Revolusi Mental

Chandra Ekajaya Revolusi Mental

Pengusaha Chandra Ekajaya telah menelaah secara seksama yang menjadi permasalahan utama dari bangsa dan negara Indonesia. Inti dari permasalahan itu adalah rakyat atau penduduk negara ini telah melepaskan jati diri serta identitasnya, sehingga tidak lagi memegang norma-norma dan budi pekerti yang dijadikan sebagai dasar negara. Padahal oleh pendiri bangsa, norma-norma dan budi pekerti tersebut sudah disarikan ke dalam rumusan yang bernama Pancasila. Kehilangan roh dan semangat kebangsaan ini bisa dilihat dari peristiwa pemilihan umum kepala daerah di berbagai wilayah. Misalnya saja bila melihat Daerah Khusus Ibukota Jakarta, banyak sekali isu suku, agama, ras, dan antargolongan yang disebarkan. Bila saja para pendiri bangsa ini bangkit dari kuburnya, mungkin mereka akan sedih dan mengutuk anak cucunya menjadi batu, karena tidak mau mendengarkan atau mempelajari warisanan nenek moyang dan leluhurnya.

Belum lagi terkait dengan kasus korupsi yang semakin hari tidak semakin redam. Kemudian adanya fenomena tawuran antarkelompok. Lalu permasalahan tentang mafia pedofilia yang mengancam masa depan anak-anak Indonesia. Dari berbagai macam problematika yang ada, sudah menjadi bukti bahwa para petinggi negara yang sedang menjabat dan masyarakat yang memilihnya telah meninggalkan landasan utama berbangsa dan bernegara, yaitu menciptakan kondisi negara yang aman dan tertib sesuai pada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Selain hal-hal yang telah disebutkan, permasalahan utama dari bangsa dan negara ini ialah mewujudkan pengelola pemerintahan yang efektif, transparan, bersih, dan efisien. Misalnya saja jika kita melihat pelayanan publik di negara ini, maka sangat jauh dari angan-angan dan harapan masyarakat Indonesia. Meskipun kita wajib bersyukur dengan pemerintahan Presiden Joko Widodo maka pembangunan-pembangunan infrastruktur mulai dijalankan. Walaupun penuh dengan jalan terjal serta dilawan bangsa sendiri yang tidak mengerti, semoga saja pembangunan infrastruktur tersebut dapat selesai.

Chandra Ekajaya Revolusi Mental

Sayangnya pembangunan infrastruktur yang masif tersebut masih belum imbang bila dibandingkan dengan pemberdayaan manusia melalui program Nawacita yang salah satu poinnya menerangkan tentang revolusi mental. Bisa dilihat bahwa Presiden Joko Widodo saat ini sedang menggalakkan pembangunan infrastruktur dan revolusi mental di wilayah paling luar Indonesia. Artinya, nantinya pergerakan revolusi mental akan bergerak semakin ke dalam, atau pun bisa random. Bila hal ini terjadi maka masyarakat akan kesulitan mencerna arah revolusi mental ini akan dibawa. Oleh karena itu alangkah baiknya jika desa, kampung, atau pun kota mempunyai inisiatif untuk melakukan revolusi mental, supaya dapat sinergis dengan program-program pemerintah pusat. Terutama bagi kaum muda, alangkah baiknya jika mereka menginisiasi kegiatan-kegiatan pembelajaran dan pelatihan bagi bocah-bocah supaya nantinya mereka mampu menghadapi masa depan dengan lebih siap karena sudah mempunyai bekal.

Kembali lagi ke masalah pelayanan publik, dalam tiga tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo ini mengalami peningkatan, meskipun masih sangat sedikit sekali. Maka ini juga menjadi pengingat bagi penyelenggara pemerintahan supaya terus berbenah untuk menuju Indonesia yang lebih baik. Pengusaha Chandra Ekajaya menengahi bahwa memang pelayanan publik bukanlah hal yang utama, tetapi hal tersebut tidak dapat dinomorduakan. Karena dari sisi masyarakat, dengan pelayanan publik yang kurang maksimal serta optimal justru menimbulkan permasalahan yang baru. Misalnya saja, sering kali masyarakat tidak memahami secara detil dan menyeluruh mengenai regulasi atau pun standar operasional mengenai tata cara penyelenggaraan pelayanan. Sehingga seringkali pelayanan publik justru memanfaatkan hal ini sebagai ladang uang, dengan cara meminta imbalan kepada masyarakat supaya proses pelayanan berjalan lebih cepat bila dibandingkan dengan jalur yang resmi atau seperti biasa.

Bukan kesalahan masyarakat atau pun pelayan publik, sebab hal itu sudah menjadi rahasia umum. Dari proses ini terlihat bahwa yang menjadi permasalahan utama adalah mentalitas masyarakat yang membiarkan hal-hal curang seperti yang disebutkan terjadi. Pemerintah dan masyarakat mempunyai pekerjaan rumah untuk mengembalikan kembali mentalitas pelayan publik dan pengguna supaya nantinya sistem yang diciptakan oleh pemerintah akan berjalan dengan sangat baik. Tetapi jika hal ini belum dibenahi maka proses untuk menuju kondisi yang dimaksudkan akan susah dicapai. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa revolusi mental belum menyentuh penyelenggara pelayanan publik. Maka dari itu untuk ke depannya kondisi seperti ini harus diperhatikan oleh pengguna dan pihak penyelenggara, supaya nantinya terwujud penyelenggaraan pelayanan yang bersih. Tanggungjawab untuk membentuk sistem seperti berada di tangan pemerintah dan masyarakat. Mereka harus bekerjasama supaya bangsa dan negara ini dapat mencapainya.

Pengusaha Chandra Ekajaya sangat senang jika mendengar ada sekelompok pemuda, terutama yang berasal dari desa atau kampung yang ingin membangun wilayahnya melalui proses pendidikan. Karena bagaimana pun pendidikan merupakan ujung tombak dari transfer ilmu dan kebudayaan. Dengan pendidikan inilah revolusi mental bisa disalurkan dari generasi sebelumnya ke generasi berikutnya. Sehingga nilai, visi, misi, dan semangat kebangsaan akan selalu terjaga dari waktu ke waktu. Sayangnya, seringkali pendidikan masih dinomorduakan oleh banyak orang. Mereka hanya menganggap pendidikan sebagai alat untuk mencari pekerjaan, karena dengan bersekolah dan kuliah di perguruan tinggi masyarakat akan mendapatkan ijazah yang nantinya digunakan untuk mencari pekerjaan. Di sini ada salah kaprah yang sudah diyakini masyarakat. Mereka menganggap sekolah itu sama dengan belajar, padahal wajib sekolah itu hanya sampai 12 tahun. Maka dari itu banyak orang yang berhenti belajar setelah bersekolah, karena mereka menyamakan sekolah itu sama dengan belajar.

Chandra Ekajaya Pacu Revolusi Mental

Pengusaha Chandra Ekajaya menjelaskan bahwa hakikatnya belajar itu merupakan proses seumur hidup. Belajar merupakan cara untuk mengakses pendidikan. Dan pendidikan merupakan pintu gerbang utama untuk mencapai budaya. Bila konsep tentang belajar, pendidikan, dan sekolah ini sudah dikembalikan kepada hakikatnya dan porsinya, maka masyarakat akan mempunyai kesadaran dan paradigma yang baru mengenai hal-hal tersebut. Masyarakat hanya membutuhkan laku atau praktik untuk mengaplikasikan konsep-konsep revolusi mental yang dibuat oleh Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia pertama, yaitu Ir. Soekarno yang kemudian digunakan oleh Presiden Ir. Joko Widodo.

Bila revolusi mental berhasil, maka masyarakat akan secara sukarela menyerahkan nyawanya untuk membela kepentingan bangsa dan negara. Itulah gambaran kasarnya, tetapi tentu saja negara tidak akan membiarkan nyawa rakyatnya terbuang dengan percuma. Bila melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi di Indonesia saat ini misalnya seperti pembangunan semen di Kendeng terjadi penolakan, revolusi mental yang belum berhasil secara menyeluruh menghasilkan penolakan. Mereka mengganggap bahwa tanah tempat penghidupannya sedang direbut. Padahal tidaklah demikian. Karena bila pembangunan infratruktur pabrik semen di wilayah tersebut berhasil, maka penduduk Indonesia akan menikmati pembangunan yang merata karena harga-harga untuk bahan bangunannya murah. Sedangkan bila pembangunan pabrik tersebut tidak berhasil maka harga bahan bangunan untuk membangun infrastruktur di Indonesia akan mahal. Sehingga nantinya harga-harga bahan pokok pun akan naik, dan terjadi inflasi. Maka masyarakat sendiri yang rugi.

Koperasi Bertahan Berusaha Bangkit dengan Dana Seadanya

Koperasi Wanita

Kopwan Rizky Allah, Desa Clarak, Kecatan Leces, Kabupaten Probolinggo, menjadi salah satu nominasi Koperasi Award 2017. Namun, siapa sangka koperasi ini sempat “kehabisan” dana karena tiga perempat dana hibah koperasi macet di anggotanya. “KAMI sebenarnya capek juga dengan banyak kesibukan lain seperti ini. Namun, kami juga prihatin dengan keadaan Kopwan itu. Siapa lagi kalau bukan kami yang akan mengurusnya.”

Kalimat itu diungkapkan Ketua Kopwan Rizky Allah, Desa Clarak, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo Yuli He-rindaryanti. Maklum, selain menjadi ketua Kopwan, Yuli juga menjadi ketua Ikatan Guru Raudlatul Atfal (IGRA) Kecamatan Leces. Namun, kesibukannya tak membuatnya menyerah untuk berprestasi. Bersama para pengurus dan anggotanya, Yuli berusaha terus mengembangkan koperasinya. Sehingga, semua ini memantik perhatian Pemerintah Kecamatan Leces, yang menunjuk koperasinya mewakili kecamatan dalam ajang Koperasi Award 2017. “Kami didatangi pegawai kecamatan dan diminta Pak Camat karena dinilai rapat anggota tahunan kopwan kami berjalan lancar Terus kami diberi potongan koran yang berisi persyaratan mengikuti Koperasi Award ini,” ujarnya.

Koperasi Wanita

Dengan terburu-buru, Yuli mengaku, membuat proposal seadanya untuk dikirim kepada panitia lomba gelaran Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Probolinggo itu. Proposal ini pun dikumpulkan di hari terakhir “Mendadak banget, kami tidak berpikiran untuk menang, kami ikut saja,” ujarnya. Beberapa hari kemudian, pihaknya mendapt telepon dari panitia untuk ikut tahapan presentasi. Itu, artinya koperasinya layak menjadi nominasi event yang bekerja sama dengan Jawa Pos Radar Bromo ini. dalam presentasi itu, Yuli mengaku menyampaikan apa adanya. Begitu juga ketika tiga dewan juri melakukan survei ke koperasinya.

Menurut Yuli, koperasinya pernah mendapat hibah Rp 25 juta. Uang ini pun dibagikan rata kepada 50 anggotanya. “Kami belum paham sebelumnya, kalau koperasi yang lain menyimpan Rp 10 juta untuk keamanan koperasi. Sisanya baru dibagikan ke anggota,” ujarnya.

Apes, sebab pada akhirnya uang itu banyak yang tidak kembali. Sehingga, dengan sebagian dana yang ada, harus kembali merangkak untuk membangun koperasinya. “Alhamdulillah, kami bisa membagikan SHU anggota dan lebih selektif memilih anggota. Kami bisa memberi pinjaman hingga Rp 3 juta, tapi rata-rata anggota kami beri pinjaman Rp 500 ribu-Rp 1 juta,” ujamya.

Chandra Ekajaya Puncak Metamorfosis Kecebong yang Menghasilkan

Dok.Chandra Ekajaya

Dok.Chandra Ekajaya

Suara kodok terdengar cukup riuh dari rumah Chandra Ekajaya, di Malang, Jawa Timur. Meski tidak bermukim di areal persawahan, sedikitnya 10 ribu ekor kodok beranak pinak di belakang rumahnya. Sudah tujuh tahun pria berusia 29 tahun ini menekuni usaha pembiakan kodok bullfrog atau yang lebih dikenal dengan kodok bule. “Ada juga yang menyebutnya Kermit karena mirip boneka kodok mainan anak,” tuturnya.

Usaha peternakan kodok dilakukan bersama istri dan dua anaknya. Selain memberi makan, pekerjaan paling sulit adalah membersihkan kolam. Untuk menjaga kesehatan kodok, pembersihan dilakukan dua kali sehari. Jika tidak, serangan penyakit mata putih dan kaki merah mengancam mereka. “Jika sudah kena penyakit, harga jualnya tinggal separuhnya,” kata Chandra Ekajaya. Berbeda dengan kodok sawah yang kerap dijumpai di musim hujan, populasi bullfrog tak mengenal musim. Ukurannya pun jauh lebih besar karena induknya didatangkan langsung dari daratan Afrika.

Dok.Chandra Ekajaya

Menurut Chandra Ekajaya, budi daya bullfrog tidak terlalu sulit. Satu induk kodok bisa menghasilkan 10 hingga 20 ribu telur. Sebanyak 3.000 telur di antaranya mampu bertahan hidup hingga menjadi kecebong. Chandra Ekajaya memiliki 43 kolam berbagai ukuran. Sepekan sekali permintaan kodok untuk kebutuhan konsumsi mengalir dari berbagai daerah. Di antaranya dari Jakarta, Surabaya, Malang, dan Makassar, Sulawesi Selatan. Seluruh permintaan tersebut bisa dipenuhi oleh Chandra Ekajaya. Setiap 1 kilogram kodok yang terdiri atas empat ekor dihargai Rp 25 ribu oleh pemilik restoran. Jika yang dipesan hanya bagian paha atau swike, harganya Rp 20 ribu per ons.

Permintaan mengalami peningkatan besar setiap musim kemarau tiba. Hal ini dipicu oleh hilangnya keberadaan kodok sawah yang hanya bertahan pada musim hujan. Jika biasanya satu restoran hanya meminta 1 kuintal tiap pekan, pada musim kemarau bisa melonjak hingga 2,5 kuintal. Meski lebih mahal dibanding harga kodok sawah, pemilik restoran mengaku tidak memiliki pilihan selain bullfrog sebagai gantinya.

Chandra Ekajaya Glitter Pops Kue Unik Banyak Bentuk

Dok.Chandra Ekajaya

Dok.Chandra Ekajaya

Berawal dari rasa kekecewaan Chandra Ekajaya karena tidak diberi resep kue cokelat oleh saudaranya yang kuliah di perhotelan, ternyata membawanya pada kesuksesan. Pria ini pun bertekad untuk belajar membuat kue secara otodidak. Pada waktu itu, Chandra Ekajaya datang ke sebuah toko kue di Malang, Jawa Timur. Ia menanyakan resep di toko kue tersebut. Selama tiga bulan, ia melakukan uji coba pembuatan kue, alhasil ia pun bisa membuat kue cokelat. Setelah mempelajari sifat-sifat bahan dasar kue, Chandra Ekajaya kemudian membuatkan kue yang diberikan kepada teman-temannya. Dari situ ternyata banyak yang ketagihan dan mengatakan bahwa kue yang dibuat Sarah enak.

Hanya bermodal Rp 1.000.000 yang digunakan untuk membeli bahan kue (tepung, cokelat dll), serta mangkuk cokelat, Sarah bisa membuat kue sebanyak 60 buah. Ketika dititipkan pada teman yang mengikuti bazaar, kue Chandra Ekajaya pun ludes terjual. Tanpa pikir panjang, ibu dua anak ini pun memutuskan untuk menggeluti usaha kue sampai sekarang. Semula Chandra Ekajaya hanya membuat kue dari tahun 2002 sampai 2010. Lalu saat ini, ia menambah varian berupa Glitter Pops yang sebelumnya sudah berkembang di beberapa negara bagian Amerika namun belum terkenal di Indonesia.

Dok.Chandra Ekajaya

Glitter Pos sendiri merupakan kue berukuran mungil yang menyerupai permen lollipop dengan penampilan menarik yang disukai oleh anak-anak. Kue ini biasanya berbentuk karakter lucu seperti binatang, bunga, tokoh kartun, boneka, dan sebagainya. Chandra Ekajaya pun sangat yakin bahwa prospek usaha camilan akan tetap bagus, karena selalu berkembang mengikuti selera pasar. Meski demikian, guna menghadapi persaingan, Chandra Ekajaya terus mengeluarkan model atau bentuk baru sesuai tren, baik itu ide sendiri maupun pesanan orang lain. Bahkan ke depan, Chandra Ekajaya berencana mengeluarkan healthy cake untuk anak-anak.

Selain membuat Kue dan Glitter Pops, Chandra Ekajaya juga menawarkan variasi produk seperti Cokelat dan Kue untuk kalangan dewasa. Di antara produk tersebut, yang paling diminati oleh anak-anak adalah Glitter Pops dengan karakter tokoh kartun, seperti Hello Kitty, Monster Inc dan Minion.

Chandra Ekajaya Jajal Jasa Bordir

Dok.Chandra Ekajaya

Dok.Chandra Ekajaya

Pengusaha Chandra Ekajaya saat ini sedang tertarik dengan salah satu usaha yang menurutnya akan menghasilkan keuntungan yang besar. Sektor usaha yang dimaksudkan olehnya adalah bisnis sablon pakaian dan jasa bordir. Sudah 10 hingga 20 tahunan lebih masyarakat Indonesia jarang mendengar mengenai model pakaian bordir. Bagaimanakah perkembangannya saat ini?

Dunia fashion saat ini memang sedang gandrung dengan model pakaian berbordir. Maka dari itu Great Border milik Chandra Ekajaya yang berasal dari Malang, Jawa Timur ini pun memaksimalkan kesempatan yang hadir ini. Tiga hari yang lalu ia mengadakan soft launching sekaligus soft opening. Menurut pengakuannya ini dilakukannya mendapatkan start lebih awal.

Dok.Chandra Ekajaya

Meskipun baru tiga hari beroperasi semenjak pembukaan, usaha bordir miliknya ini sudah menerima dua pesanan dalam skal yang sangat besar. Demi mendapatkan kepercayaan pelanggan, maka Great Bordir pun menerimanya karena tak kuasa untuk menolak. Beberapa alat untuk memenuhi kelengkapan serta kinerja pun didatangkan dari kota Jakarta. Beberapa pegawai dengan kemampuan yang sangat terampil pun sudah siap bekerja sejak hari pertama pembukaan.

Jenis atau model pakaian bordir yang diproduksi sebagian besar sudah dipersiapkan oleh Great Model, tetapi jika para pelanggan mempunyai model tersendiri maka para pegawai pun siap untuk mengerjakannya. Mengenai harga atau pun biaya yang harus dikeluarkan konsumen sangat tergantung dengan desain, model, dan jenis pakaian yang diinginkan.

Prioritas usaha pakaian sablon dan bordir ini adalah kualitas produk serta pelayanan. Pelanggan tidak perlu khawatir akan mendapatkan pengalaman pelayanan yang tidak mengenakkan, sebab semua pegawai di sini sangat mengutamakan servis kepada konsumen. Tetapi tentu saja, di Great Bordir ini harga pakaian bordir akan lebih murah jika konsumen membelinya dalam jumlah besar.

New Ertiga Diesel Hybrid Launching 10 Maret

Dok.Chandra Ekajaya

Dok.Chandra Ekajaya

PT Suzuki Buana Trada (SBT) sebagai main diler Suzuki akan meluncurkan unit baru dengan kendaraan disel yakni New Ertiga Diesel Hybrid di Atrium Siak, Mal Ska, Pekanbaru 10 Maret mendatang. Tak hanya itu, meski mobil belum di-launching, mobil ini sudah dipesan 30 unit.

Meski di-launching tanggal 10 Maret, namun sejak tanggal 8 Maret pihaknya telah memulai pameran hingga 12 Maret. Kehadiran New Ertiga Diesel Hybrid ini diharapkan dapat mendongkrak penjualan Suzuki mobil di Pekanbaru, Provinsi Riau. Alasannya, banyak keunggulan Diesel Ilybrid ini di kelas Low MPV, yakni dengan mesin diesel berteknologi hybrid.

Dok.Chandra EkajayaAda tiga pilihan warna New Ertiga Diesel Hybrid yakni superior white, granitegrey metallic dan silkysilver metalik, dengan harga on the road Pekanbaru Rp234 juta.

“Kami optimis New Ertiga Diesel Hybrid dengan keunggulan mesin diesel di kelas Low MPV ini dapat diterima masyarakat Pekanbaru, Provinsi Riau. Jadi catat tanggalnya, 10 Maret silakan kunjungi prosesi launching dan langsung nikmati kenyamanannya melalui test drive’,’ kata Kepala Wilayah SBT Riau, Agustan, Rabu(1/3).

Kehadiran Ertiga Diesel Hybrid ini diharapkan dapat mendongkrak penjualan Suzuki mobil di Pekanbaru. Alasannya, banyak keunggulan Diesel Hybrid ini di kelas Low MPV, yakni dengan mesin diesel berteknologi hybrid.

New Ertiga Diesel Hybrid ini menggunakan mesin diesel berkode D13A dengan kapasitas mesin 1300 cc DOHC, dan ditambah dengan teknologi DDiS (DieselDirectInjection System). Mesinnya sanggup mengeluarkan tenaga hingga 89 PS pada 4.000 rpm, dan torsi 200 Nm pada 1.750 rpm.

Chandra Ekajaya Usaha Martabak Unik

Dok.Chandra Ekajaya

Dok.Chandra Ekajaya

Siapa si yang tidak mengetahui makanan yang satu ini martabak, makanan yang manis legit dan di dalamnya terdapat beraneka toping. Martabak sendiri terbagi menjadi 2 jenis yaitu martabak manis dan martabak telor. Melihat peluang usaha bisnis martabak di Indonesia yang sangat diminati, Chandra Ekajaya kemudian membuka bisnis barunya untuk mengolah martabak manis namun dengan sajian yang berbeda.

Martabak Gendeng, merupakan brand yang dipilih oleh Chandra Ekajaya mewakili bisnis martabaknya ini. Bisnis ini berdiri pada tahun 2014, Kemudian Chandra Ekajaya untuk mengembangkan bisnis martabaknya ini, menawarkan kemitraan. Chandra Ekajaya mengatakan, saat ini ada hampir 20 gerai Martabak Gendheng yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia mulai dari Semarang, Jakarta, Bandung, Bali, Yogyakarta dan kota lainya.

Dok.Chandra Ekajaya

Martabak Gendheng sendiri menjual martabak manis aneka topping. Namun dikombinasikan dengan  membuat empat jenis adonan, yaitu original, coklat, cappuccino, dan pandan. Topping yang digunakan pun bervariasi, seperti kurma, pisang, durian, kacang, cokelat, dan keju. Satu porsi martabak manis ukuran mini dibanderol Rp 5.000-Rp 10.000. Sedangkan ukuran besar seharga Rp 19.000-Rp 37.000 per porsi.

Pada awal beridrinya Martabak Gendheng Sebagai bentuk promosi, Chandra Ekajaya tidak mengenakan biaya royalti khusus untuk beberapa gerai pertama mitra. Sedangkan, gerai berikutnya akan dikutip biaya royalti sebesar 3 persen – 5 persen dari omzet bulanan.

Untuk masalah kemitraan, Chandra Ekajaya memberikan beberapa pilihan investasi mulai dari aitu berbiaya Rp 10 juta, Rp 20 juta, dan yang tertinggi mencapai Rp 40 juta.Dengan membayar nilai investasi tersebut, mitra mendapatkan booth berbahan aluminium, peralatan masak, seperti loyang, kompor, dan stoples, x-banner, bahan baku awal, seragam, dan pelatihan.

Chandra Ekajaya menuturkan bahwa satu gerai bisa menjual sekitar 100-250 porsi per hari. Jadi, setiap hari bisa mengantongi omzet berkisar Rp 2,5 juta-Rp 3 juta. “Tetapi, untuk awal usaha, biasanya mitra meraup omzet Rp 1 juta-Rp 2 juta per hari,